Shasha16’s Weblog



PROPAGANDA DAN PUBLIC RELATIONS

PROPAGANDA DAN PUBLIC RELATIONS

Oleh : Annisa Fitriyani (4123066911)

Mahasiswi

Four typical ways of conceptual and practicing communications management in public relations public relations development are press agentry (propaganda), public informations, two way asymmetrical, and two way symmetrical.- James E. Grunig.-

Dalam pengertian luas, propaganda merupakan komunikasi yang jujur dan terus terang dengan maksud menampilkan suatu sebab melalui penjelasan, persuasive atau misi dengan rasa pengabdian.

Namun dalam perkembangannya, penerapan propaganda dalam keseharian oleh pemerintah atau organisasi/institusi, sering berkonotasi negative. Ini terjadi karena praktek propaganda lebih banyak dimunculkan dalam bentuk kekerasan, teror, aksi subversive, menutupi atau mengacaukan fakta untuk pentingan mempengaruhi public.

Dalam berbagai kesempatan, pakar public relations, komunikasi dan social, Frederick E Lumley mengatakan,

“Propaganda dalam jenis apapun membangkitkan kemarahan dengan mengacaukan permasalahan. Propaganda menyebabkan hal-hal yang tidak penting seolah-olah menjadi penting. Menyebabkan hal penting seolah remeh. Menyebabkan saluran-saluran komunikasi penuh dengan hal-hal yang omong kosong. Propaganda menyebabkan masyarakat kacau”.

Public Relations memang diyakini bukan propaganda. Public Relations bukan aktivitas subversif yang menyembunyikan fakata relevan, mempublikasikan informasi palsu dan menyesatkan.

Namun, sebagai suatu salah satu bentuk, proses, aktivitas dan penerapan komunikasi dalam organisasi/pemerintahan, nyatanya sering juga menerapkan praktek propaganda dalam mencapai tujuannya (mempengaruhi opini public). Walaupun memang, prakteknya lebih banyak dalam bentuk “propaganda positif” yang tujuannya mempengaruhi opini dan bukannya mutlak memanipulasi opini.

Public Relations tidak dapat membohongi public. Bila manajemen perusahaan memang buruk, atau produknya dibuat secara sembarangan, tidak akan cukup jumlah PR yang dapat “menutup” masalah ini. Memang benar kalau dikatakan PR dapat membantu meringankan dampak pemberitaan negative atas sebuah perusahaan seperti “pemberitaan buruk” yang muncul selama pemogokan pekerja atau penarikan produk dengan meningkatkan orang tentang nilai-nilai korporat yang positif. PR dapat membantu membangun dan menjaga reputasi yang baik, tetapi tidak dapat menutupi hal yang buruk

Etika senantiasa dilibatkan dalam PR. Karena PR dapat bekerja begitu halus dan tidak kentara serta bekerja pada tingakt periklanan yang berbeda, maka PR dapat lebih persuasive dalam membentuk sikap social. Kadang-kadang batas antara berita dan PR menjadi kabur sampai tidak dapat dibedakan lagi batasnya. Sebagai seorang praktisi PR, Anda harus mengarahkan diri pada standar etika yang paling tinggi. Bila tidak, Anda akan membuat klien Anda memasuki kancah permusuhan media yang luas. Sudah tentu, setiap klien yang bermaksud membohongi public, atau membuat pernyataan yang tidak benar, akan menerima jenis “tinta” yang tidak mereka inginkan. Professional PR yang bertanggung jawab akan selalu berkata kepada Anda, “Jangan pernah berdusta kepada media.”

Menurut Lou Hoffman, Presiden, The Hoffman Agency “Saya justru mencari seorang individu yang unik yang dapat “memenangkan” orang dan dapat membuat mereka menjadi terbuka, memberi informasi, serta tidak hanya mempunyai disiplin mau mendengarkan saja…. Tetapi juga mempunyai kapasitas intelektual untuk mengolah informasi, membuatnya masuk akal, dan keyakinan untuk menyajikannya, entah itu berupa sebuah rekomendasi bagi seorang klien atau membantu seorang wartawan.”


Leave a Comment

(required)

(required)



Formatting your comment
Back to Top | Textarea: Larger | Smaller